Artikel Peran Serat Pangan terhadap Kesehatan Gastrointestinal dan Pencegahan Penyakit Degeneratif


 A. Judul Artikel

Peran Serat Pangan terhadap Kesehatan Gastrointestinal dan Pencegahan Penyakit Degeneratif

B. Abstrak

Serat pangan, komponen dari tumbuhan yang tidak dapat dicerna oleh enzim manusia, memainkan peran fundamental dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan dan mencegah timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara menyeluruh hubungan antara konsumsi serat dengan kesehatan gastrointestinal (seperti pencegahan sembelit dan divertikulosis) serta pencegahan penyakit diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kanker kolorektal. Tinjauan literatur dilakukan terhadap jurnal-jurnal ilmiah Indonesia yang terakses terbuka. Hasil kajian menunjukkan bahwa asupan serat yang cukup secara konsisten dikaitkan dengan perbaikan fungsi usus, pengendalian kadar gula darah, penurunan kolesterol, dan pengurangan risiko kanker usus besar. Disimpulkan bahwa peningkatan konsumsi serat melalui pola makan berbasis nabati merupakan strategi preventif yang efektif dan mudah diterapkan. Oleh karena itu, rekomendasi untuk edukasi gizi masyarakat dan fortifikasi pangan perlu digalakkan.

Kata kunci: Serat Pangan, Gastrointestinal, Penyakit Degeneratif, Prebiotik, Diabetes, Kanker Kolorektal.

C. Pendahuluan

Pola makan modern yang tinggi lemak, gula, dan makanan olahan, namun rendah serat, telah menjadi penyumbang utama meningkatnya beban penyakit degeneratif di Indonesia. Penyakit seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan kanker semakin banyak ditemui dan tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia tetapi juga usia produktif (Kemenkes RI, 2018). Serat pangan, meskipun tidak memberikan nilai energi secara langsung, merupakan komponen krusial dalam makanan yang memberikan dampak kesehatan yang signifikan. “Asupan serat yang rendah merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya berbagai penyakit degeneratif” (Hardinsyah & Supariasa, 2016). Melalui mekanisme kerja fisik dan kimia dalam saluran cerna, serat memengaruhi proses pencernaan, absorpsi, dan komposisi mikrobiota usus. Artikel ini akan membahas secara mendalam peran serat pangan dalam memelihara kesehatan gastrointestinal dan mencegah penyakit degeneratif, dengan didukung oleh bukti-bukti ilmiah dari penelitian di Indonesia

D. Metode

Artikel ini disusun menggunakan metode tinjauan naratif (narrative review). Pencarian literatur dilakukan secara elektronik pada database jurnal nasional terindeks SINTA (Science and Technology Index) dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan adalah: “serat pangan”, “dietary fiber”, “kesehatan usus”, “penyakit degeneratif”, “diabetes”, “penyakit jantung”, “kanker kolorektal”. Kriteria inklusi meliputi: (1) jurnal penelitian atau review yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia; (2) jurnal terakses penuh (open access) secara gratis; (3) terbit dalam 10 tahun terakhir (2014-2024); dan (4) relevan dengan topik pembahasan. Literatur yang terpilih kemudian dianalisis untuk diidentifikasi temuan-temuan utamanya guna menjawab tujuan penulisan.

E. Hasil dan Pembahasan

1. Serat Pangan dan Kesehatan Gastrointestinal

Kesehatan saluran cerna sangat bergantung pada asupan serat. Serat, khususnya jenis tidak larut air, menyerap air dan meningkatkan massa feses, sehingga melunakkan tinja dan memperlancar buang air besar, yang pada akhirnya mencegah dan mengatasi sembelit (konstipasi). “Serat makanan berperan dalam memperlancar buang air besar dengan cara meningkatkan bobot feses dan mengurangi waktu transit di usus” (Aryati, 2019). Selain itu, diet tinggi serat juga melindungi dari divertikulosis, suatu kondisi dimana terbentuk kantung-kantung (divertikula) pada dinding usus besar. Tekanan intraluminal yang tinggi akibat feses yang keras dan sedikit dapat dicegah dengan kehadiran serat yang membuat feses menjadi lunak dan mudah dikeluarkan. Serat larut air juga berperan sebagai prebiotik, yaitu makanan bagi bakteri baik (probiotik) di usus besar. Fermentasi serat oleh bakteri menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA) seperti asetat, propionat, dan butirat yang menjadi sumber energi bagi sel-sel epitel kolon, menurunkan pH usus (menghambat bakteri patogen), dan memperkuat sistem imun usus.

2. Serat Pangan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2

Mekanisme serat dalam mencegah diabetes terkait erat dengan pengendalian kadar gula darah. Serat larut air membentuk gel viskos di dalam lambung dan usus halus yang memperlambat pengosongan lambung dan absorpsi glukosa ke dalam aliran darah. Hal ini mencegah kenaikan gula darah yang tajam setelah makan (postprandial). “Asupan serat yang tinggi dapat memperbaiki sensitivitas insulin dan kontrol glikemik pada penderita diabetes melitus tipe 2” (Sulistiani et al., 2021). Dengan stabilnya kadar gula darah, beban kerja pankreas untuk memproduksi insulin menjadi berkurang, sehingga dapat mencegah resistensi insulin yang merupakan cikal bakal diabetes melitus tipe 2.

3. Serat Pangan dan Pencegahan Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular, seperti jantung koroner dan stroke, sering dipicu oleh dislipidemia (kadar kolesterol LDL tinggi dan HDL rendah). Serat larut air, seperti pektin dan beta-glukan, memiliki kemampuan untuk mengikat asam empedu (yang mengandung kolesterol) di dalam usus dan mengeluarkannya bersama feses. Hal ini memaksa hati untuk mengambil lebih banyak kolesterol dari darah untuk mensintesis asam empedu baru, sehingga secara otomatis menurunkan kadar kolesterol LDL dalam darah. “Terdapat hubungan inverse antara asupan serat dengan kadar kolesterol total dan LDL dalam darah” (Pramono, 2017). Selain itu, produksi SCFA dari fermentasi serat, khususnya propionat, juga dilaporkan dapat menghambat sintesis kolesterol di hati.

4. Serat Pangan dan Pencegahan Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal (usus besar) merupakan salah satu jenis kanker dengan angka kejadian yang tinggi. Konsumsi serat berperan dalam mengurangi risiko kanker melalui beberapa cara. Pertama, serat mempercepat waktu transit makanan di usus, sehingga mengurangi lamanya kontak antara karsinogen (zat pemicu kanker) yang mungkin terdapat dalam feses dengan dinding usus. Kedua, produksi SCFA (terutama butirat) dari fermentasi serat memiliki efek anti-inflamasi dan antiproliferasi, serta dapat memicu apoptosis (kematian terprogram) pada sel-sel kanker kolon. “Asupan serat yang cukup dapat menurunkan risiko kanker kolorektal melalui mekanisme pengenceran dan pengikatan karsinogen, serta produksi asam lemak rantai pendek” (Wahyuni & Baliwati, 2020). Meskipun beberapa studi global menunjukkan hasil yang beragam, meta-analisis besar konsisten menunjukkan manfaat protektif dari diet kaya serat terhadap kanker ini.

F. Kesimpulan

Berdasarkan tinjauan literatur yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa serat pangan memainkan peran yang multi-dimensional dan sangat penting bagi kesehatan. Asupan serat yang cukup terbukti secara ilmiah:


Menjaga kesehatan gastrointestinal dengan mencegah sembelit, divertikulosis, dan memelihara ekosistem mikrobiota usus yang sehat.


Berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif melalui mekanisme pengendalian gula darah (diabetes), penurunan kolesterol (penyakit kardiovaskular), dan pengurangan paparan karsinogen serta peningkatan produksi SCFA (kanker kolorektal).


Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan serat harian (25-30 gram per hari untuk orang dewasa) harus menjadi prioritas dalam strategi pencegahan penyakit.

G. Rekomendasi

Edukasi Masyarakat: Perlu kampanye gizi masif oleh pemerintah dan tenaga kesehatan tentang pentingnya konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh sebagai sumber serat alami.

Penelitian Lanjutan: Diperlukan lebih banyak penelitian intervensional di Indonesia untuk menguatkan bukti dan mengeksplorasi potensi sumber serat lokal yang spesifik.

H. Daftar Pustaka

Aryati, L. (2019). Peran Serat Pangan Terhadap Kesehatan Saluran Pencernaan. Jurnal Kesehatan Manarang, 5(2), 112-120.

Hardinsyah, H., & Supariasa, I. D. N. (2016). Ilmu Gizi: Teori & Aplikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kemenkes RI. (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Pramono, A. (2017). Hubungan Asupan Serat, Lemak dan Natrium dengan Profil Lipid pada Pasien Hipertensi Primer. Journal of Nutrition College, 6(4), 365-373.

 Sulistiani, S., Kusuma, R. M., & Prihatin, S. (2021). Hubungan Asupan Serat dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Journal of Health Science and Prevention, 5(1), 27-33.

Wahyuni, S., & Baliwati, V. F. (2020). Asupan Serat, Lemak, dan Daging Merah sebagai Faktor Risiko Kanker Kolorektal: Systematic Review. Gizi Indonesia, 43(1), 51-62.

Unusa link : unusa.ac.id

Fakultas kesehatan link : fkes.unusa.ac.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Mahasiswa D4 Ankes Unusa Laksanakan KKN di Desa Sumbersono Mojokerto, Fokus pada Edukasi Kesehatan dan Penanganan Stunting

RESUME MATERI DAY 2